Ini adalah salah satu kisah dari seorang Bhikku bernama Ajahn Brahm di buku cerita perjalanan Tour de Indonesia 2009 berjudul Horeee! Guru Si Cacing Datang, dimana ditulis oleh Hendra Widjaja.
Sekilas mengenai Ajahn Brahm. Beliau adalah pria kelahiran Inggris, 7 Agustus 1951 dengan nama asli Peter Betts. Berkat kecerdasannya, si anak yatim dari keluarga sederhana dan pas-pasan itu mendapat beasiswa di bidang Fisika Teori di Cambridge University. Universitas tempat dimana ilmuwan kenamaan Sir Isaac Newton dan Sir Stephen Hawking berkarya.
Setelah lulus kuliah, selama 1 tahun Peter Betts mengajar di sekolah menengah sebelum akhirnya pergi ke Thailand untuk menjadi Bhikku.
Dan berbagai kisah penempaan menjadi seorang Bhikhu serta perjalanannya menjadi pemuka umat Budha, tertuang di sana.
”Ambillah hikmah dari mana pun datangnya”. Itulah satu kalimat yang kami pegang sehingga setelah Horeee! Guru si Cacing Datang, kami masih membeli buku-buku berikutnya yaitu Si Cacing dan Kotorannya 1 dan Si Cacing dan Kotorannya 2.
Si Cacing dalam hal ini adalah karakter konfiguratif yang diibaratkan manusia. Dimana ia sering kali keasyikan berkubang dalam dunia yang fana ini.
Banyak kisah menarik yang dituturkan dengan ringan, semacam cemilan yang renyah dan nikmat bagi setiap pembacanya.Cerita yang mengalir begitu menghibur, bernilai universal menembus batas dan sekat religi serta kepercayaan. Buku-buku tersebut berisi lelucon yang menawan, memberikan pelajaran kebijaksanaan dengan berhias estetika spiritual.
Dan inilah salah satu kisah menarik tentang keinginan manusia.
Ajahn Brahm yang telah tertempa sekian puluh tahun menjadi Bhikku, tentu hidup dengan sangat ketat. Hidup sederhana sebagaimana ajaran Budha adalah nafasnya.
Tak pernah ia menerima uang apapun. Ia juga tak memiliki kartu kredit, tak punya tabungan di bank. Maka, ia pun tak punya uang sama sekali.
Suatu hari, ada seseorang yang datang menghadapnya seraya berkata ”Ajahn Brahm, saya tahu Ajahn tidak bisa menerima uang apa pun. Tapi, jika Ajahn mau, saya akan berikan apa pun yang Ajahn inginkan untuk keperluan pribadi Ajahn, bukan untuk wihara, namun untuk Anda”.
Lalu orang itu pun menyebutkan angka 100.000 baht yang saat itu setara dengan $10.”Apa pun yang Ajahn perlukan,” ujarnya.
Sebelumnya tak pernah terlintas di benak Ajahn bahwa ia memerlukan sesuatu. Maka Ajahn Brahm menjawab ,”Begini, saya tidak bisa memikirkan saat ini. Nah, Anda ke sini lagi saja besok. Malam ini, saya akan masuk kamar saya, lalu saya akan memikirkannya.” Orang itu berkata,”Baiklah, saya akan ke sini besok pada jam yang sama”.
Malam itu Ajahn mengambil secarik kertas bekas. Apa yang ia perlukan dengan dengan 100bath itu? ”Aku perlu buku tulis. Penaku ini sudah parah. Aku perlu pena baru. Sulit sekali menulis pada malam hari dengan lilin. Aku perlu senter nih, bukannya lilin. Senter itu sudah rusak, jadi aku butuh baterai cadangan”.
Selanjutnya ia juga memikirkan apa saja yang dibutuhkan untuk menulis. ”Aku perlu kertas surat untuk menulis surat ke Inggris, kepada keluarganya. Aku benar-benar butuh sepatu juga. Sandalku sudah robek. Aku juga butuh sesuatu untuk menjahit jubahku.” Semua dituliskan, dan ternyata uang 100 baht tidak cukup. Dan Ajahn Brahm merasa tidak bisa mencoret apa pun dari daftar itu karena semua serba penting.
Dan dalam tempo sekitar 5 menit, 1.000 baht tidak cukup. Ia menyadari, semakin lama ia berpikir, bakalan semakin panjang daftar itu. Seandainya ia terus menulis selama setengah jam lagi, 100.000 baht juga tidak bakalan cukup.
Lalu ia sadar apa yang tengah terjadi. Sebelumnya, ia tak pernah ada keinginan mempunyai uang, atau alat pembayaran untuk memperoleh sesuatu. Saat itu, ia sangat puas dan dia merasa menjadi bhikku yang sangat bahagia.
Namun begitu orang tersebut memberikan kesempatan memperoleh sesuatu, berapa pun jumlahnya, uang itu tidak akan cukup.
Sebelumnya, dengan bebas dari keinginan, ia sangat bahagia. Ketika orang menawarkan uang, berapa pun jumlahnya tidak akan cukup ternyata untuk dapat memenuhi keinginan yang kemudian timbul begitu saja.
Keesokan harinya, Ajahn Brahm berkata pada orang itu, ”Jangan lakukan itu lagi. Sebelum Anda mau memberikan uang itu, saya sangat bahagia. Dan Anda malah membuat saya menderita. Tolong jangan lakukan lagi.”
Saya tersenyum membacanya. Rasanya seperti tersindir seketika. Ini persis kejadiannya ketika saya mendapat voucher belanja dari kantor menjelang lebaran tiba.
Sebelumnya saya tak merasa membutuhkan apa-apa. Namun saat voucher belanja ada di tangan, tiba-tiba semua kebutuhan menjadi mendesak seketika. Dan barang-barang itu tiba-tiba sudah berada di keranjang yang kesemuanya penting adanya. Dari mulai panci penggorengan ( teflon ) yang usang dan lecet-lecet yang merasa sangat perlu diganti. Rice cooker satu buah yang rasanya teramat perlu mendapat cadangan sehingga tak harus repot-repot menunggu ia bersih dan kering untuk membuat nasi baru. Hingga mixer pengocok kue yang cukup mendesak karena selama ini sering pinjam ke tetangga sebelah…:)
Tiba-tiba, tumpukan kebutuhan itu telah melampaui lembaran voucher yang ada. Weleh-weleh……. Apa yang sedang terjadi? Rupanya inilah yang dinamakan KEINGINAN, yang kadang seolah-olah menjadi KEBUTUHAN. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan keinginan sangat amat dibutuhkan.
Keinginan demi keinginan itulah yang menciptakan sebuah kebutuhan.
Satu contoh kasus biarlah saya ceritakan di sini. Semakin pandainya para sales jaman sekarang dalam mendesak-desakkan kebutuhan kadang cukup menjebak bagi siapa saja yang lengah dibuatnya. Barang yang sebenarnya tak terlalu mendesak menjadi sangat amat diperlukan rasanya.
Di suatu kesempatan arisan PKK, ada seorang sales panci”bulgogi” meminta ijin untuk mendemonstrasikan produknya. Panci tersebut konon dapat digunakan membakar aneka jenis bahan. Dari mulai roti, ikan, ayam, dan sebagainya. Ini juga bisa berfungsi membuat aneka kue dan penganan, sebagai pengganti oven. Begitu pandainya sales itu memberikan penawarannya, saya pun tergoda untuk membelinya. Padahal selama ini saya termasuk ibu-ibu yang tak mudah terpengaruh oleh iming-iming berbagai perlengkapan rumah tangga. Maka jangan heran jika tak ada barang berharga di rumah kami..hehehe.
Cerita ini bukan untuk mendiskreditkan sales panci tentu saja, karena yang sedang kita tinjau adalah ”keputusan” pembelian itu sendiri. Dimana ini bisa terjadi di berbagai produk lainnya.
Dan setelah keputusan pembelian hari itu, panci bulgogi tersebut tenyata amat jarang diperlukan sehingga tergeletak begitu saja memenuhi dapur kami yang memang tak terlalu luas. Dan panci teflon sederhana yang usang milik kami itu ternyata masih sangat baik menjalankan tugasnya hingga tahun-tahun berikutnya.
Dari sinilah saya kemudian belajar. Pengendalian diri atas sebuah KEINGINAN sesungguhnya adalah HAL UTAMA yang KITA BUTUHKAN. Karena seberapa pun uang dan rizki yang ada di tangan, ia TAK KAN CUKUP memenuhi keinginan manusia.
Maka di tahun-tahun berikutnya, rizki berupa voucher belanja tak harus saya habiskan sendirian. Saya memutuskan untuk berbagi kebahagiaan dengan mendistribusikannya kepada beberapa sahabat dan kerabat. Karena berbagi kebahagiaan ternyata lebih kami butuhkan dampak dan manfaatnya.
Seberapa pun banyak lembaran voucher itu, ia tak kan mampu menutupi kebutuhan dan keinginan pribadi saya.
Saya kemudian menyadari bahwa selusin sendok yang ada di meja makan telah cukup bagi kami. Selusin gelas yang telah pecah beberapanya bukanlah soal. Saat tamu datang melebihi jumlah gelas yang kami miliki, saya tak harus malu jika harus menyajikan minuman dengan gelas-gelas hadiah produk sehingga cukup bervariasi tampaknya…:)
Karena toh mereka bukan melihat seberapa bagus gelas kami, namun seberapa lebar pintu rumah kami selalu terbuka untuk mereka yang berkenan datang… :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar