Cerpen Buddhis: Friends
“Tok,
tok, tok !” “Tunggu sebentar!” sahut Andre mendengar pintu kamar
kostnya diketuk. Dengan malas, Andre pun berdiri, berjalan ke arah
pintu, “Oh, kamu, Nia, ada apa siang-siang begini?”
“Ada apa?” tanya Nia keheranan, “Oh, kamu menyindirku ya?, karena aku
kepagian lebih dari setengah jam? Sorri, soalnya daerahku itu ‘kan
susah dapat angkot, jadinya aku keluar lebih awal, tahunya hari ini
gampang!”
Andre tersenyum, “Ngak, aku ngak nyindir kamu, aku betul-betul naya, ada perlu apa kamu ke sini?”.
“Becanda kamu!”
“Becanda kamu!”
Melihat tampang Andre yang serius, Nia pun melanjutkan dengan nada
agak kesal, “Hari ini hari sabtu, Susan ulang tahun hari ini dan
ngundang kita makan, dan kita udah janji buat nyari kado siangnya!”
“Ohh…!” Andre menepuk keningnya, Ya..ya..ya…., maaf, aku lupa!”.
“Paulus mana?” lanjut Andre. Nanti juga akan ke sini, ‘kan janjiannya
bakal ketemu di sini, kamu juga lupa itu.. ya? Tadi juga dia udah
kutelepon!”
Mereka berempat dengan Susan memang bersahabat sejak SMU dulu. Kini
mereka kuliah di tempat yang berbeda-beda, namun sampai saat ini masih
mengontak satu sama lainya. Uniknya, tidak satupun diantara mereka yang
beragama sama. Andre sendiri seorang pemeluk agama Buddha yang tulen,
Nia beragama Kristen, dan Paulus Katolik. sedangkan Susan, lebih senang
mengikuti orang tuanya saja, Kong Hu Chu.
“Duduklah dulu, mau minum apa?” Andre memecah keheningan.
“Udah, angak perlu repot, kayak orang asing saja. Ntar aku ambil
sendiri aja. Kamu lagi sibuk ya?” lanjut Nia, melihat kertas-kertas
yang berserakan di atas meja belajar Andre. “N gambil semester pendek?”
lanjutnya lagi mengingat saat itu seharusnya mereka tengah liburan.
Memang beberapa Universitas termasuk Universitas tempat Andre kuliah
telah mulai dengan program semester pendeknya.
“Ya aku ngambil 8 sks di semester pendek ini, tapi bukan itu yang sedang kukerjakan!” “Urusan Vihara?”
Andre mengangguk, lalu melanjutkan, “Sebenarnya…..” Andre berpikir untuk mencari kata yang tepat.
Andre mengangguk, lalu melanjutkan, “Sebenarnya…..” Andre berpikir untuk mencari kata yang tepat.
“Sebenarnya kamu ngak bisa datang nanti malam karena kamu telah buat janji yang lain, di Viharamu, ya kan?”
Andre mengangguk, “Aku sudah janji sama Unit Kreatif untuk ngebantu bikin papan mading yang baru dan …..”
“Tapi kamu kan ketua!” potong Nia cepat.
Mereka terdiam, “Apa ngak ada orang lain?”.
“Kasihan Frederik, stafnya banyak yang pulang kampung, dan sebagian lagi tidak peduli akan kerjaanya.”
“Tapi kan masih ada yang lain, yang bukan staf unit itu pun
seharusnya ikut andil dong! Udah sana telepon Frederik dan bilang kamu
ngak bisa datang!”
“Ya, tapi kamu kan setidaknya ngerti gimana kondisinya, berapa orang yang benar-benar punya perhatian buat…buat….”
“Aku ngak mau dengar itu, Andre. Gimana nanti perasaan Susan. Pas
kita janjian nonton waktu itu juga udah kamu batalin gara-gara ada
rapat di Viharamu kan?”.
Andre menghela napas, “Sejujurnya, aku iri sama organisasi agama kalian!”
“Gimana kuliahmu?” “Apa?”, “Kuliahmu!?” “Aku ngak lulus dua mata
kuliah!” Andre menunduk, ada suatu rasa malu juga ketika dia menyebutkan
itu.
Kamu ingat nilai-nilai kamu di tingkat I dulu, dan bagaimana pujian
guru-guru selalu dilayangkan padamu semasa SMU dulu?”. “Aku ngak pingin
membahas masalah itu, Nia”.
“Bagaimana kamu harus menghadapi masalah itu, Andre!”.
“Ya tapi semuanya telah menjadi begitu rumit, dan itulah yang ingin
aku pecahkan sekarang ini. Perhatian dari staf dan umat yang sangat
kurang, pihak yayasan, belum lagi senior-senior yang turut campur,
padahal mereka sendiri kurasa belum tentu mengerti betul bagaimana
kondisi Vihara sekarang. Belum lagi…”, Andre terhenti, tak tahu lagi
apa yang ingin dikatakannya.
“Belum lagi ? Ah…tak tahulah !”
Suasana hening sejenak, “Kapan terakhir kamu minta bantuan ?”
Andre mengingat-ingat, “Hari minggu kemarin, ketika aku minta Hedy
untuk mengkoordinir umat yang mau main basket !” Nia tersenyum, “Itu
bukan minta bantuan, itu kan memang tugasnya dia sebagai koordinator
Olahraga!”
“Oh..dua hari yang lalu ketika kuminta Nancy untuk mengetikkan surat…” Andre tidak melanjutkan kalimatnya.
“Kamu berubah banyak, Andre. Mana sistem pembagian waktumu yang bagus
itu, ketika kamu berhasil memimpin OSIS tanpa menanggalkan gelarmu
sebagai siswa dengan nilai terbaik di sekolah kita?”
Suasana hening kembali, “Kurasa kesalahanmu cuma satu, kamu begitu
ingin memajukan Viharamu dan Agama Buddha. Itu memang suatu hal yang
sangat indah dan terpuji, tapi caramu salah, bukan dengan mengorbankan
dirimu habis-habisan begitu. Mereka juga perlu belajar bertanggung
jawab. Disitulah perananmu, arahkan mereka, dan tak perlu sungkan untuk
menegur mereka!” “Kenapa kamu begitu perhatian padaku, Nia? Apakah …?”
“Kamu sahabatku. Betapapun jeleknya kamu, apapun agamamu, yang jelas
kita telah bersahabat sejak SMU, dan itu yang ingin aku jalani!”
Untuk kesekian kalinya, suasana hening kembali tercipta, “Kupikir
senior-seniormu juga mesti berpikiran seperti ini, tidak hanya
mengkritik saja, tetapi juga berusaha untuk melihat kondisi di dalamnya.
Staf-staf kamu juga, kalau mereka benar-benar peduli dan sadar akan
komitmennya, semoga lambat laun mereka bisa menempatkan diri secara
tepat.”
Andre tersenyum masam, “Tapi…bagaimana aku bisa memulai itu semua?”
Nia mengangkat bahunya, “Mungkin kamu bisa menuliskan percakapan kita
ini menjadi sebuah cerpen sebagai permulaan!”
Andre berpikir sejenak, lalu mengangguk-angguk sendiri dan berkata, “Terima kasih, Nia!” Nia cuma bisa mengangguk.
Tiba-tiba mereka dikejutkan suara Paulus, “Aduh, maaf aku terlambat
hampir 10 menit, tadi dompetku ketinggalan, jadi aku harus kembali untuk
mengambilnya dan…”
Andre mengusap air matanya yang tanpa sadar telah merebak tadi,
“Masuklah dulu, Paul! Aku telepon teman dulu, t’rus ganti baju, dan kita
segera berangkat, Oce?”
Paulus cuma terheran-heran, “Apa aku ketinggalan sesuatu?” Nia tersenyum, “Ya, jelas, sebuah cerita indah!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar