Ajahn Brahm: “All is Well”
Tepatnya tanggal 16 Februari 2012,
ibunda Ajahn Brahm, Hazel Betts, meninggal dunia dalam usia 83 tahun di
London, Inggris. Menurut Ajahn Brahm, ibunya menderita alzheimer selama 2
tahun. “Beliau bahkan tidak bisa mengenali saya. Saya tidak tahu
kenapa, padahal saya kelihatannya berbeda dengan orang-orang pada
umumnya. Beliau juga tidak bisa mengenali saudara-saudara saya dan semua
orang. Sehingga beliau terpaksa tinggal di rumah perawatan selama 2,5
tahun terakhir,” tutur Ajahn Brahm.
“Sejujurnya saya tidak merasa sedih
ketika menerima email yang mengabarkan ibu saya meninggal,” aku Ajahn
Brahm. Ia sudah bisa menduga ibunya pasti suatu saat akan
meninggalkannya. Karenanya ia tidak merasa terkejut ketika mendengar
kabar wafatnya ibunya melalui email.
Ajahn Brahm meyakini sebuah hal yang
positif terjadi pada ibunya ketika meninggal. Sebagai seorang meditator,
Ajahn Brahm tahu bahwa ketika seseorang akan meninggal, batin akan
lepas dari otak sehingga kita bisa mengingat kembali siapa diri kita,
semuanya akan kembali lagi. “Dan saya tahu itu akan terjadi pada ibu
saya. Saya tahu ketika beliau akan meninggal, beliau tahu siapa dirinya.
Beliau akan ingat telah banyak berbuat baik, ibu seorang bhikkhu yang
baik. Itu akan memberinya begitu banyak kebahagiaan. Dengan begitu,
batin beliau akan merasa bahagia dan damai,” ujarnya yakin.
“Bukanlah suatu kehidupan yang
menyenangkan jika harus hidup dengan alzheimer ketika Anda tidak tahu
siapa diri Anda dan dengan siapa,” ucap Ajahn Brahm, “Saya merasa beliau
selama ini seperti dimasukkan ke dalam penjara, dan ketika meninggal,
beliau seperti terbebas dari penjara. Jadi, saya tidak merasa sedih sama
sekali. Saya justru merasa begitu bahagia dan damai karena orang yang
begitu baik selama hidupnya akhirnya bisa bebas dan pergi ke kehidupan
berikutnya.”
“Jadi, walaupun seseorang akan meninggal
dunia, itu adalah sesuatu yang baik jika selama hidup Anda menjalaninya
dengan baik,” jelas Ajahn Brahm di depan 5000 orang yang memadati
plenary hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta. Ajahn
Brahm ditemani oleh Handaka Vijjananda sebagai moderator dan Tasfan
Santacitta sebagai penerjemah. Minggu, 18 Maret 2012 adalah talkshow
kedua tur ceramah “Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2012” setelah
sehari sebelumnya, 17 Maret 2012, dimulai dari Bali. Tur ceramah ini
diselenggarakan oleh Ehipassiko Foundation, penerbit Buddhis yang banyak
menerbitkan buku karya Ajahn Brahm.
Tema tur ceramah kali ini adalah “All is Well”.
Tahun ini Ajahn Brahm mengunjungi 10 kota besar di seluruh Indonesia
tanggal 17-28 Maret 2012. Well, mari kita lihat apa yang disampaikan
Ajahn Brahm kali ini!
Hidup Tidak Pernah Pasti Seratus Persen
“Orang sering bertanya kepada saya,
‘Bagaimana Anda bisa bilang all is well (segalanya baik) kalau saya
sakit? Bagaimana Anda bisa bilang all is well kalau saya tidak punya
uang? Bagaimana Anda bisa bilang all is well kalau pacar saya
meninggalkan saya?’” tutur Ajahn Brahm disambut gelak tawa hadirin.
“Segalanya baik karena hidup tidak pernah pasti seratus persen. Jika
hidup Anda selalu dapat 95 atau 100 persen, Anda selalu bahagia, maka
Anda tidak pernah belajar apa pun. Kalau Anda mendapatkan 30 atau 40
persen, Anda akan menjadi begitu depresi, begitu murung. Karena segala
sesuatu bisa saja salah dari waktu ke waktu, maka nilai 30 persen adalah
bagus. Jadi, apapun yang terjadi, all is well. Sebab ketika Anda gagal
saat itulah Anda bertumbuh.”
Ajahn Brahm kemudian memberi contoh,
“Suatu saat ketika kita sakit, kita berpikir itu tidak baik. Tapi saya
katakan sakit adalah hal yang baik. Ketika Anda sakit, Anda bisa
istirahat. Jika Anda sakit, Anda membuka kesempatan kepada siapa pun
untuk berbuat karma baik mengobati Anda. Jadi, bagi Anda para suami,
jika sakit silahkan ambil cuti dan katakan pada istri Anda, ‘Ini saatnya
kesempatan buat kamu untuk membuat karma baik’.” Hadirin kembali
tertawa dibuatnya. Kepiawaian Ajahn Brahm dalam storytelling memang
sangat mengagumkan, begitu hidup dan jenaka sehingga berkali-kali tawa
menggema menyambut leluconnya.
“Jadi jika Anda sakit, segalanya baik,
sebab Anda membuat orang lain berkesempatan membuat karma baik. Dan
ketika Anda sakit, teman-teman Anda akan menjenguk Anda. Bukankah baik
sekali jika teman-teman Anda menjenguk Anda?” Ajahn Brahm meyakinkan.
“Bahkan ketika Anda menjadi tua, tak ada
yang salah dengan menjadi tua. Menjadi tua adalah sesuatu yang luar
biasa!” seru Ajahn Brahm.
Beberapa waktu lalu Ajahn Brahm baru
saja merayakan ulang tahun ke-60. Kebanyakan orang pada usia 60 tahun
akan mulai berpikir untuk pensiun. Maka Ajahn Brahm pun bertanya kepada
para muridnya, “Bolehkah saya pensiun?” Muridnya menjawab, “Tidak…
Tidak…” Karena bagi seorang bhikkhu, makin tua justru dianggap makin
suci. “Jadi saya baru memulai ‘karir’ saya. Pada umur 70 tahun, saya
akan bekerja 2 kali lipat lebih keras. Dan pada umur 80 tahun, saya akan
bekerja 3 kali lipat lebih keras,” ujar Ajahn Brahm tertawa. “Tapi saya
menikmati usia saya. Saya selalu berpikir saya tidak semuda dulu, tapi
tidak setua apa yang akan saya alami. Jadi lebih baik saya menikmatinya
hari ini.”
“Jadi, dengan cara seperti itu Anda
tidak perlu cemas terhadap apapun. Apapun yang akan terjadi dengan hidup
kita, all is well. Walaupun banyak kesedihan dan kesulitan dalam hidup
kita, itulah tantangannya. Di situlah kita bisa bertumbuh.”
Jangan Pernah Mengkhawatirkan Apa Pun
Ajahn Brahm mengajak kita sedikit
merenung. Menurutnya, sebelum timbulnya kebahagiaan dan hal-hal yang
indah, biasanya didahului dengan rasa sakit. Jadi, ketika kita mengalami
banyak penderitaan dan kesakitan, semuanya akan baik-baik saja, karena
itu adalah pertanda bagus sesuatu yang indah akan datang.
Bagaimana cara kita menikmati semua ini? “Pertama, jangan pernah mengkhawatirkan apa pun,” ujar Ajahn Brahm tegas.
Ajahn Brahm kemudian menceritakan
pengalamannya ketika menjadi bhikkhu di Thailand. Karena tinggal di
vihara hutan, banyak nyamuk yang menggigit. “Saya berpikir pasti salah
satunya adalah nyamuk malaria. Padahal sebagai bhikkhu, kami tidak boleh
membunuh nyamuk. Itulah masalah besarnya,” kali ini mimik Ajahn Brahm
serius. Ajahn Brahm berseloroh, nyamuk-nyamuk di Thailand sepertinya
telah berevolusi sehingga mereka tahu ketika melihat orang yang berjubah
cokelat, mereka akan berpikir, “Inilah makan malam!” Nyamuk-nyamuk itu
tidak tahu kapan ditepok ketika sedang menghisap darah. Karenanya mereka
sangat bahagia jika ketemu dengan bhikkhu karena pasti tidak akan
ditepok. Dan nyamuk-nyamuk itu makin girang jika bertemu dengan bhikkhu
bule. “Sebab itulah pertama kalinya di Thailand timur laut para nyamuk
itu merasakan ‘masakan Barat’,” seloroh Ajahn Brahm yang kembali
disambut tawa publik JCC.
Pengalamannya ‘bergaul’ dengan nyamuk
malaria ternyata memberinya sebuah pengetahuan baru, “Begitu banyak
nyamuk di sana, dan jika Anda cemas, tubuh Anda akan tegang. Akhirnya
saya menemukan sebuah fakta bahwa semakin kita cemas, semakin banyak
karbondioksida keluar dari pori-pori tubuh kita sehingga makin banyak
nyamuk yang datang. Semakin kita cemas, semakin kita digigit nyamuk.
Maka, Ajahn Brahm pun akhirnya memilih
melepaskan kecemasannya dan berkata, “Oh nyamuk, pintu hatiku terbuka
untukmu. Silahkan gigit saya, nikmatilah makan malammu…” Alhasil, Ajahn
Brahm menjadi rileks sehingga menjadi tidak kasat mata bagi para nyamuk
itu. “Inilah yang mengajari saya, kecemasan itu yang melukai saya, bukan
malaria,” ia menyimpulkan.
Ajahn Brahm punya cerita lain tentang
rasa cemas. Bulan Desember 2011 lalu ada seorang gadis 14 tahun mengeluh
kepadanya, “Sungguh tidak adil! Saya baru berumur 14 tahun, tapi tahun
2012 mau kiamat. Sungguh tidak adil! Saya belum ngapa-ngapain.” Ajahn
Brahm lalu berkata padanya, “Tahun ini bukan tahun 2012. Kita ini umat
Buddha, jadi tahun ini adalah tahun 2555 Buddhist Era. Jadi, bagi umat
Buddha, tahun ini tidak akan kiamat. Mungkin bagi umat lain kiamat.
Haha.”
“Dan coba kau lihat angkanya, 2-5-5-5,
itu adalah nomor hoki! Karena beberapa waktu lalu saya tinggal di
Thailand, saya mengerti bahasa Thailand. Angka “5” dalam bahasa Thailand
adalah “ha”. Jadi tahun ini berarti tahun “two-ha-ha-ha”. Tahun yang
sangat kocak! Haha”
Simpan Hanya Kenangan yang Bahagia
Ajahn Brahm sangat beruntung bisa
menjadi murid Ajahn Chah, seorang master meditasi tradisi hutan yang
sangat terkenal di Thailand. Ajahn Chah sering mengangkat gelas dan
berkata kepada para muridnya, “Apakah kalian bisa melihat
retakan-retakan dalam gelas ini?” Ajahn Brahm kemudian benar-benar
memelototinya dan segera berkata, “Saya tidak melihat ada retakan di
gelas itu.” Bahkan Ajahn Brahm sempat berpikir, Ajahn Chah mungkin agak
retak (baca: gila). Tapi Ajahn Brahm salah, Ajahn Chah sangat bijaksana
dan tidak gila, “Retakan-retakan pada gelas sangat kecil sekali, sangat
mikroskopis, tapi ada. Jika ada orang yang menjatuhkan gelas ini,
retakan-retakan itu akan terbuka dan gelas ini akan pecah.
Retakan-retakan itu adalah pertanda adanya anicca (ketidakkekalan).
Karena kita tahu gelas itu memiliki retakan-retakan itulah, maka kita
harus benar-benar hati-hati dalam menjaganya. Tapi jika gelas itu
terbuat dari plastik, Anda mau banting atau tendang sekalipun tidak akan
pecah, Anda malah tidak akan benar-benar memperhatikan dan menjaganya.
Karena manusia memiliki retakan-retakan dan rapuh, maka suatu hari kita
akan mati. Karena itulah kita harus peduli satu sama lain. Kalau kita
tidak rapuh, kita tidak akan saling peduli satu sama lain. Karena adanya
kesedihan dan air mata, kita menjadi memiliki welas asih. Itulah yang
membuat hidup kita menjadi indah.”
“Tapi kadang-kadang kita tidak bisa
bilang all is well dengan tulus karena masih saja cemas dengan hal-hal
di masa lalu, bukan hanya di masa depan,” ujar Ajahn Brahm.
“Saya sudah mengunjungi banyak rumah dan
mereka memajang foto-foto yang indah di dinding rumah mereka. Foto
pernikahan, foto wisuda sarjana, foto liburan, tapi saya tidak pernah
melihat siapa pun memasang foto ketika mereka sedang bercerai, atau foto
anak sedang mengerjakan PR. Saya juga belum pernah melihat foto orang
yang terjebak dalam kemacetan di Jakarta pada Senin pagi.”
Ajahn Brahm melanjutkan, “Anda hanya
menyimpan foto-foto yang indah di rumah Anda, dan memang begitulah
seharusnya. Tapi jangan lupa, kita punya album foto yang lain. Dan itu
adalah album foto di dalam batin kita. Di sinilah kita menyimpan seluruh
album foto kita. Foto saat suami sedang membohongi istrinya, foto saat
istri mengomeli suaminya, foto saat seseorang menipu kita dalam bisnis.
Itu semua bukan foto yang baik untuk disimpan dalam batin.”
“Zaman sekarang kita tidak lagi
menyimpan foto dalam album foto, melainkan di dalam komputer. Jika ada
foto yang kita tidak suka, pencet delete (hapus)! Begitulah yang
seharusnya Anda lakukan terhadap foto-foto buruk dalam kenangan Anda,
jika Anda tidak suka, hapus! Cukup simpan kenangan-kenangan yang
bahagia. Ini akan membuat Anda termotivasi menjadi orang yang lebih
bahagia, menjadi orang yang lebih sehat, menjadi orang yang lebih
sukses. Itulah yang disebut melepas. Ketika Anda melepas rasa sakit di
masa lalu, apa yang tersisa? All is well…”
So, mari kita ucapkan, “Untuk semua yang telah terjadi, terima kasih. Untuk semua yang akan terjadi, baiklah.”
Peluncuran Buku Ajahn Brahm dan Lelang
Talkshow kali ini terasa makin istimewa
karena diluncurkan juga 3 buku dan 1 DVD karya Ajahn Brahm yang
diterbitkan oleh Ehipassiko Foundation, yaitu novel Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3, cergam Si Cacing dan Komplotan Kesayangannya, komik Kangarooguru, dan DVD animasi Si Cacing dan Kotoran Kesayangannyayang
pasti ditunggu-tunggu oleh para pecinta Ajahn Brahm. “Kebanyakan cerita
dalam buku-buku saya adalah cerita-cerita untuk semua orang dari
berbagai agama,” tutur Ajahn Brahm.
Selain itu juga diadakan lelang 4
lukisan surealis diri Ajahn Brahm yang dilukis oleh Ikhsan. Dari lelang
empat lukisan itu terkumpul dana Rp 446 juta yang akan dipergunakan
untuk membiayai anak asuh Ehipassiko Foundation yang jumlah mencapai
1350 anak di seluruh Indonesia.
Sumber :Budhhazine.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar