Minggu, 10 Februari 2013

Berapapun Tidak Akan Cukup

13545894031868270013
Ini adalah salah satu kisah dari seorang Bhikku bernama Ajahn Brahm di buku cerita perjalanan Tour de Indonesia 2009 berjudul Horeee! Guru Si Cacing Datang, dimana ditulis oleh Hendra Widjaja.
Sekilas mengenai Ajahn Brahm. Beliau adalah pria kelahiran Inggris, 7 Agustus 1951 dengan nama asli Peter Betts. Berkat kecerdasannya, si anak yatim dari keluarga sederhana dan pas-pasan itu mendapat beasiswa di bidang Fisika Teori di Cambridge University. Universitas tempat dimana ilmuwan kenamaan Sir Isaac Newton dan Sir Stephen Hawking berkarya.
Setelah lulus kuliah, selama 1 tahun Peter Betts mengajar di sekolah menengah sebelum akhirnya pergi ke Thailand untuk menjadi Bhikku.
Dan berbagai kisah penempaan menjadi seorang Bhikhu serta perjalanannya menjadi pemuka umat Budha, tertuang di sana.
Ambillah hikmah dari mana pun datangnya”. Itulah satu kalimat yang kami pegang sehingga setelah Horeee! Guru si Cacing Datang, kami masih membeli buku-buku berikutnya yaitu Si Cacing dan Kotorannya 1 dan Si Cacing dan Kotorannya 2.
Si Cacing dalam hal ini adalah karakter konfiguratif yang diibaratkan manusia. Dimana ia sering kali keasyikan berkubang dalam dunia yang fana ini.
Banyak kisah menarik yang dituturkan dengan ringan, semacam cemilan yang renyah dan nikmat bagi setiap pembacanya.Cerita yang mengalir begitu menghibur, bernilai universal menembus batas dan sekat religi serta kepercayaan. Buku-buku tersebut berisi lelucon yang menawan, memberikan pelajaran kebijaksanaan dengan berhias estetika spiritual.
Dan inilah salah satu kisah menarik tentang keinginan manusia.
Ajahn Brahm yang telah tertempa sekian puluh tahun menjadi Bhikku, tentu hidup dengan sangat ketat.  Hidup sederhana sebagaimana ajaran Budha adalah nafasnya.
Tak pernah ia menerima uang apapun. Ia juga tak memiliki kartu kredit, tak punya tabungan di bank. Maka, ia pun tak punya uang sama sekali.
Suatu hari, ada seseorang yang datang menghadapnya seraya berkata ”Ajahn Brahm, saya tahu Ajahn tidak bisa menerima uang apa pun. Tapi, jika Ajahn mau, saya akan berikan apa pun yang Ajahn inginkan untuk keperluan pribadi Ajahn, bukan untuk wihara, namun untuk Anda”.
Lalu orang itu pun menyebutkan angka 100.000 baht yang saat itu setara dengan $10.”Apa pun yang Ajahn perlukan,” ujarnya.
Sebelumnya tak pernah terlintas di benak Ajahn bahwa ia memerlukan sesuatu. Maka Ajahn Brahm menjawab ,”Begini, saya tidak bisa memikirkan saat ini. Nah, Anda ke sini lagi saja besok. Malam ini, saya akan masuk kamar saya, lalu saya akan memikirkannya.” Orang itu berkata,”Baiklah, saya akan ke sini besok pada jam yang sama”.
Malam itu Ajahn mengambil secarik kertas bekas. Apa yang ia perlukan dengan  dengan 100bath itu? ”Aku perlu buku tulis. Penaku ini sudah parah. Aku perlu pena baru. Sulit sekali menulis pada malam hari dengan lilin. Aku perlu senter nih, bukannya lilin. Senter itu sudah rusak, jadi aku butuh baterai cadangan”.
Selanjutnya ia juga memikirkan apa saja yang dibutuhkan untuk menulis. ”Aku perlu kertas surat untuk menulis surat ke Inggris, kepada keluarganya. Aku benar-benar butuh sepatu juga. Sandalku sudah robek. Aku juga butuh sesuatu untuk menjahit jubahku.” Semua dituliskan, dan ternyata uang 100 baht tidak cukup. Dan Ajahn Brahm merasa tidak bisa mencoret apa pun dari daftar itu karena semua serba penting.
Dan dalam tempo sekitar 5 menit, 1.000 baht tidak cukup. Ia menyadari, semakin lama ia berpikir, bakalan semakin panjang daftar itu. Seandainya ia terus menulis selama setengah jam lagi, 100.000 baht juga tidak bakalan cukup.
Lalu ia sadar apa yang tengah terjadi. Sebelumnya, ia tak pernah ada keinginan mempunyai uang, atau alat pembayaran untuk memperoleh sesuatu. Saat itu, ia sangat puas dan dia merasa menjadi bhikku yang sangat bahagia.
Namun begitu orang tersebut memberikan kesempatan memperoleh sesuatu, berapa pun jumlahnya, uang itu tidak akan cukup.
Sebelumnya, dengan bebas dari keinginan, ia sangat bahagia. Ketika orang menawarkan uang, berapa pun jumlahnya tidak akan cukup ternyata untuk dapat memenuhi keinginan yang kemudian timbul begitu saja.
Keesokan harinya, Ajahn Brahm berkata pada orang itu, ”Jangan lakukan itu lagi. Sebelum Anda mau memberikan uang itu, saya sangat bahagia. Dan Anda malah membuat saya menderita. Tolong jangan lakukan lagi.”
Saya tersenyum membacanya. Rasanya seperti tersindir seketika. Ini persis kejadiannya ketika saya mendapat voucher belanja dari kantor menjelang lebaran tiba.
Sebelumnya saya tak merasa membutuhkan apa-apa. Namun saat voucher belanja ada di tangan, tiba-tiba semua kebutuhan menjadi mendesak seketika. Dan barang-barang itu tiba-tiba sudah berada di keranjang yang kesemuanya penting adanya. Dari mulai panci penggorengan ( teflon ) yang usang dan lecet-lecet yang merasa sangat perlu diganti. Rice cooker satu buah yang rasanya teramat perlu mendapat cadangan sehingga tak harus repot-repot menunggu ia bersih dan kering untuk membuat nasi baru. Hingga mixer pengocok kue yang cukup mendesak karena selama ini sering pinjam ke tetangga sebelah…:)
Tiba-tiba, tumpukan kebutuhan itu telah melampaui lembaran voucher yang ada. Weleh-weleh……. Apa yang sedang terjadi? Rupanya inilah yang dinamakan KEINGINAN, yang kadang seolah-olah menjadi KEBUTUHAN. Kemampuan seseorang dalam mengendalikan keinginan sangat amat dibutuhkan.
Keinginan demi keinginan itulah yang menciptakan sebuah kebutuhan.
Satu contoh kasus biarlah saya ceritakan di sini. Semakin pandainya para sales jaman sekarang dalam mendesak-desakkan kebutuhan kadang cukup menjebak bagi siapa saja yang lengah dibuatnya. Barang yang sebenarnya tak terlalu mendesak menjadi sangat amat diperlukan rasanya.
Di suatu kesempatan arisan PKK, ada seorang sales panci”bulgogi” meminta ijin untuk mendemonstrasikan produknya. Panci tersebut konon dapat digunakan membakar aneka jenis bahan. Dari mulai roti, ikan, ayam, dan sebagainya. Ini juga bisa berfungsi membuat aneka kue dan penganan, sebagai pengganti oven. Begitu pandainya sales itu memberikan penawarannya, saya pun tergoda untuk membelinya. Padahal selama ini saya termasuk ibu-ibu yang tak mudah terpengaruh oleh iming-iming berbagai perlengkapan rumah tangga. Maka jangan heran jika tak ada barang berharga di rumah kami..hehehe.
Cerita ini bukan untuk mendiskreditkan sales panci tentu saja, karena yang sedang kita tinjau adalah ”keputusan” pembelian itu sendiri. Dimana ini bisa terjadi di berbagai produk lainnya.
Dan setelah keputusan pembelian hari itu, panci bulgogi tersebut tenyata amat jarang diperlukan sehingga tergeletak begitu saja memenuhi dapur kami yang memang tak terlalu luas.  Dan panci teflon sederhana yang usang milik kami itu ternyata masih sangat baik menjalankan tugasnya hingga tahun-tahun berikutnya.
Dari sinilah saya kemudian belajar. Pengendalian diri atas sebuah KEINGINAN sesungguhnya adalah HAL UTAMA yang KITA BUTUHKAN. Karena seberapa pun uang dan rizki yang ada di tangan, ia TAK KAN CUKUP memenuhi keinginan manusia.
Maka di tahun-tahun berikutnya, rizki berupa voucher belanja tak harus saya habiskan sendirian. Saya memutuskan untuk berbagi kebahagiaan dengan mendistribusikannya kepada beberapa sahabat dan kerabat. Karena berbagi kebahagiaan ternyata lebih kami butuhkan dampak dan manfaatnya.
Seberapa pun banyak lembaran voucher itu, ia tak kan mampu menutupi kebutuhan dan keinginan pribadi saya.
Saya kemudian menyadari bahwa selusin sendok yang ada di meja makan telah cukup bagi kami. Selusin gelas yang telah pecah beberapanya bukanlah soal. Saat tamu datang melebihi jumlah gelas yang kami miliki, saya tak harus malu jika harus menyajikan minuman dengan gelas-gelas hadiah produk sehingga cukup bervariasi tampaknya…:)
Karena toh mereka bukan melihat seberapa bagus gelas kami, namun seberapa lebar pintu rumah kami selalu terbuka untuk mereka yang berkenan datang… :)

Selasa, 05 Februari 2013

HUMOR SILA KE 5
Oleh : Benny


Ada umat Buddhis yang bertanya soal Pancasila Buddhis kepada seorang Bhikkhu senior ..

Umat : Bante, setelah saya renungkan mengenai Pancasila Buddhis ini, diantara 5 sila itu sebenarnya hanya Sila ke 5 –lah yang tidak merugikan orang lain, makanya oleh Sang Buddha urutannya ditaruh di paling akhir , Berarti kalau hal itu dilakukan kan nggak apa-apa Bante ?

Bhikkhu : Maksud lo...? coba jelaskan satu persatu.....

Umat : Begini bante, Sila Pertama kan berbunyi “...tidak melakukan pembunuhan”, jadi kalau kita lakukan berarti ada orang lain yang dirugikan.

Sila kedua ;  “..tidak mengambil barang yang tidak diberikan”, inipun kalau kita lakukan berarti ada orang lain yang dirugikan.

Sila ketiga ; “...tidak melakukan perbuatan seksualitas yang tidak dibenarkan, artinya tidak boleh berzinah..”, ini juga kalau kita lakukan berarti ada obyek atau orang lain yang dirugikan.

Sila keempat; “...tidak mengucapkan ucapan yang tidak benar, yang berarti tidak boleh berbohong ”., inipun kalau kita lakukan berarti ada orang lain yang dirugikan.

Nah...Sila yang kelima ; “ .... tidak minum segala minuman keras  yang dapat menyebabkan lemahnya kesadaran (ketagihan)”., kalau ini kita lakukan kan nggak ada obyek atau orang lain yang kita rugikan, Bante?
Lha wong saya minumnya didalam kamar, yang minum diri saya sendiri, pintu saya kunci dari dalam...nah...kan nggak ada orang lain yang bisa saya rugikan, Bante?

Bhikkhu : (sambil geleng-geleng kepala...) “..dengerin ya hei.. pemabuk....,Justeru Sang Buddha menaruh sila kelima itu di nomor urutan paling bawah karena paling mendasar, karena sila ke 5  itu-lah yang bisa menyebabkan pelanggaran terhadap semua sila-sila yang diatasnya ! “

“Kalau kamu udah mabok, mana inget lagi saat itu kamu buka kamar, keluar rumah...dan sampai diluar kamu masuk ke Bar, disenggol orang lain jadi marah dan membunuh orang itu. Kemudian karena minumanmu habis, lalu kamu nyomot begitu saja botol minuman yang ada di Bar itu tanpa bayar, terus kamu ketemu cewek bahenol..dirayu dan terjadi perzinahan..., lalu ada orang tanya ama kamu, “ hei Boss lagi teler ya ?”  Kamu jawab : “ Siapa bilang aku teler...Huhhh...20 botol lagi aku masih bisa setir mobil sampai dirumah nih ......enak aja kau bilang aku mabok...?! “(sambil jalannya gloyor-gloyor nabrak meja sana-sini).

Kalau kamu membunuh , mencuri, berzinah, dan  berbohong,  semua perbuatan itu tidak akan membuatmu jadi mabok.
Tapi kalau kamu Mabok.., kemungkinan untuk  membunuh, mencuri, berzinah maupun berbohong, semuanya bisa terjadi...karena kamu nggak inget apa yang sedang kamu perbuat itu, wes mudeng ( udah ngerti) nggak sekarang ?”

Umat : “ Ampun Bante..., ternyata masuk akal juga Sang Buddha naruh Sila ke 5 itu dipaling bawah, ya Bante ?..”

Bhikkhu : “ Lha iyalah...” sahut Sang Bhikkhu sambil ngloyor dan garuk-garuk kepala padahal tidak gatal.

Jumat, 01 Februari 2013

Perangkap Tikus
Suatu ketika ada seekor tikus yang hidup di rumah seorang petani. Ia adalah seekor tikus kecil yang bahagia, sebab ia mendapat cukup banyak makanan. Sungguh bagus punya tikus di rumah, karena itu artinya kita tidak memerlukan penyedot debu. Biar si tikus yang memunguti remah-remah kecil dan mungil…,tapi itu kalau kita bisa melatih si tikus untuk mengambil remah di tempat yang benar. Ha ha ha.
 
Masalahnya, petani pemilik rumah tak pernah menyukai tikus itu. Suatu hari, ketika si tikus mengintip melalui retakan di tembok, ia melihat petani itu tengah membuka sebuah bungkusan. Saat ia melihat benda dalam bungkusan itu, ia ketakutan. Petani itu ternyata membeli sebuah perangkap tikus !

Begitu gegernya tikus itu sampai-sampai ia langsung menemui sahabatnya, Si Ayam, dan berseru, “Pak Tani beli perangkap tikus! Ini mengerikan! Ini bencana!”
Namun Si Ayam malah berkata,”Bukan masalahku. Tak ada hubungannya denganku, itu urusanmu, Tikus! Pergi sana!”

Tikus itu tidak mendapat simpati dari ayam, jadi ia pergi menemui sahabatnya yang lain, Tuan Babi. “Tuan Babi, Tuan Babi! Pak Tani beli perangkap tikus. Ini berita mengerikan, aku tidak tahu apa aku bisa tidur nyenyak malam ini! Aku dalam bahaya!”

Tuan Babi berkata ,”Gak ada urusannya denganku. Urusanmu! Perangkap tikus gak bisa menangkap babi. Kamu lagi sial saja, sana pergi!”

Tikus itu begitu kecewa dengan Tuan Babi, maka ia menemui sahabatnya yang lain , Nyonya Sapi.

“Nyonya Sapi! Tolonglah aku! Pak Tani sudah beli perangkap tikus! Aku begitu paranoid sekarang! Kamu tahu kan tikus biasanya lari kesana kemari dan tidak tahu lari menginjak apa. Aku bisa menginjak perangkap itu dan aku akan terbunuh…!”  

Nyonya Sapi berkata,”Wah, wah…Itu pasti karma dari kehidupan lampaumu…Tapi sayangnya, tidak ada hubungannya denganku.”

Tikus itu tidak mendapatkan simpati dari satu pun sahabatnya. Dengan muram, ia pulang ke liangnya. Malam itu, seekor ular menyusup ke rumah petani itu dan ekornya terkena perangkap tikus itu.

Ketika istri petani datang untuk memeriksa apakah perangkap itu sudah menangkap tikus, ular itu mematuk istri petani itu. Akibatnya, istri petani itu menderita sakit berat. Karena beratnya sakit sang istri, petani itu berpikir , “Apa ya yang bagus untuk orang sakit?  Aah … sup ayam!”

Maka petani itu mengambil ayam, memotong kepalanya, membuluinya, dan merebusnya menjadi sup untuk istrinya. Si ayam kehilangan nyawanya.

Istri petani tak kunjung sembuh. Sanak saudara berdatangan untuk memastikan apakah istri petani itu baik-baik saja. Karena banyak tamu berkunjung, petani tidak tahu harus menyediakan makanan dari mana buat mereka. Jadi ia menangkap si babi, menjagalnya, lalu menyajikan sosis dan ham untuk tamu-tamunya. Si babi pun kehilangan nyawanya.

Sekali pun telah melakukan segala upaya, istri petani malang itu meninggal jua. Karena ia meninggal – Anda tahu betapa mahalnya upacara pemakaman, maka petani harus memotong sapi dan menjual dagingnya untuk membayar biaya upacara. Jadi pada akhirnya, si ayam mati, si babi kehilangan nyawa, dan si sapi dijagal…. Semua ini karena perangkap tikus.

Jadi, itu bukan hanya masalah si tikus, tapi masalah semuanya.

Kita sering berpikir, “Ini tidak akan mempengaruhiku, tak ada urusannya denganku. Ini masalah orang lain.” Tapi kisah ini memberitahu kita :”Bukan! Ini bisa jadi masalahku juga.”
Itulah sebabnya mengapa kita harus saling menolong satu sama lain, walau kita tidak tahu bagaimana hal itu berakibat pada kita. Jika ada masalah dalam hidup Anda, mohon jangan berpikir bahwa ini masalah Anda, atau masalah dia. Alih-alih, pikirkan itu sebagai masalah kita, sebab kita semua berada di dalamnya bersama-sama, dan bagian yang indah dalam proses ini adalah berbagi dengan orang lain.

Kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Jika upaya kita berhasil dan mencapai akhir yang baik, luar biasa. Tapi meskipun tidak berhasil, hal yang penting adalah : kita bekerja bersama-sama. Pokok masalahnya bukanlah dalam menyelesaikan semua masalah kita, namun ada pada kenyataan bahwa kita tidak bekerja sama. Di situlah masalahnya.

Jika kita belajar untuk saling bekerja sama, kita akan memiliki kehidupan spiritual yang menakjubkan ini, dan kita tidak akan merasa begitu kesepian. Lalu, kita pun makin dekat dengan realitas bahwa kita semua ada dalam perahu ini bersama-sama.


Ajahn Brahm: “All is Well”
Tepatnya tanggal 16 Februari 2012, ibunda Ajahn Brahm, Hazel Betts, meninggal dunia dalam usia 83 tahun di London, Inggris. Menurut Ajahn Brahm, ibunya menderita alzheimer selama 2 tahun. “Beliau bahkan tidak bisa mengenali saya. Saya tidak tahu kenapa, padahal saya kelihatannya berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Beliau juga tidak bisa mengenali saudara-saudara saya dan semua orang. Sehingga beliau terpaksa tinggal di rumah perawatan selama 2,5 tahun terakhir,” tutur Ajahn Brahm.

“Sejujurnya saya tidak merasa sedih ketika menerima email yang mengabarkan ibu saya meninggal,” aku Ajahn Brahm. Ia sudah bisa menduga ibunya pasti suatu saat akan meninggalkannya. Karenanya ia tidak merasa terkejut ketika mendengar kabar wafatnya ibunya melalui email.

Ajahn Brahm meyakini sebuah hal yang positif terjadi pada ibunya ketika meninggal. Sebagai seorang meditator, Ajahn Brahm tahu bahwa ketika seseorang akan meninggal, batin akan lepas dari otak sehingga kita bisa mengingat kembali siapa diri kita, semuanya akan kembali lagi. “Dan saya tahu itu akan terjadi pada ibu saya. Saya tahu ketika beliau akan meninggal, beliau tahu siapa dirinya. Beliau akan ingat telah banyak berbuat baik, ibu seorang bhikkhu yang baik. Itu akan memberinya begitu banyak kebahagiaan. Dengan begitu, batin beliau akan merasa bahagia dan damai,” ujarnya yakin.

“Bukanlah suatu kehidupan yang menyenangkan jika harus hidup dengan alzheimer ketika Anda tidak tahu siapa diri Anda dan dengan siapa,” ucap Ajahn Brahm, “Saya merasa beliau selama ini seperti dimasukkan ke dalam penjara, dan ketika meninggal, beliau seperti terbebas dari penjara. Jadi, saya tidak merasa sedih sama sekali. Saya justru merasa begitu bahagia dan damai karena orang yang begitu baik selama hidupnya akhirnya bisa bebas dan pergi ke kehidupan berikutnya.”

“Jadi, walaupun seseorang akan meninggal dunia, itu adalah sesuatu yang baik jika selama hidup Anda menjalaninya dengan baik,” jelas Ajahn Brahm di depan 5000 orang yang memadati plenary hall Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Jakarta. Ajahn Brahm ditemani oleh Handaka Vijjananda sebagai moderator dan Tasfan Santacitta sebagai penerjemah. Minggu, 18 Maret 2012 adalah talkshow kedua tur ceramah “Ajahn Brahm Tour d’Indonesia 2012” setelah sehari sebelumnya, 17 Maret 2012, dimulai dari Bali. Tur ceramah ini diselenggarakan oleh Ehipassiko Foundation, penerbit Buddhis yang banyak menerbitkan buku karya Ajahn Brahm.

Tema tur ceramah kali ini adalah “All is Well”. Tahun ini Ajahn Brahm mengunjungi 10 kota besar di seluruh Indonesia tanggal 17-28 Maret 2012. Well, mari kita lihat apa yang disampaikan Ajahn Brahm kali ini!

Hidup Tidak Pernah Pasti Seratus Persen 

“Orang sering bertanya kepada saya, ‘Bagaimana Anda bisa bilang all is well (segalanya baik) kalau saya sakit? Bagaimana Anda bisa bilang all is well kalau saya tidak punya uang? Bagaimana Anda bisa bilang all is well kalau pacar saya meninggalkan saya?’” tutur Ajahn Brahm disambut gelak tawa hadirin. “Segalanya baik karena hidup tidak pernah pasti seratus persen. Jika hidup Anda selalu dapat 95 atau 100 persen, Anda selalu bahagia, maka Anda tidak pernah belajar apa pun. Kalau Anda mendapatkan 30 atau 40 persen, Anda akan menjadi begitu depresi, begitu murung. Karena segala sesuatu bisa saja salah dari waktu ke waktu, maka nilai 30 persen adalah bagus. Jadi, apapun yang terjadi, all is well. Sebab ketika Anda gagal saat itulah Anda bertumbuh.”

Ajahn Brahm kemudian memberi contoh, “Suatu saat ketika kita sakit, kita berpikir itu tidak baik. Tapi saya katakan sakit adalah hal yang baik. Ketika Anda sakit, Anda bisa istirahat. Jika Anda sakit, Anda membuka kesempatan kepada siapa pun untuk berbuat karma baik mengobati Anda. Jadi, bagi Anda para suami, jika sakit silahkan ambil cuti dan katakan pada istri Anda, ‘Ini saatnya kesempatan buat kamu untuk membuat karma baik’.” Hadirin kembali tertawa dibuatnya. Kepiawaian Ajahn Brahm dalam storytelling memang sangat mengagumkan, begitu hidup dan jenaka sehingga berkali-kali tawa menggema menyambut leluconnya.
“Jadi jika Anda sakit, segalanya baik, sebab Anda membuat orang lain berkesempatan membuat karma baik. Dan ketika Anda sakit, teman-teman Anda akan menjenguk Anda. Bukankah baik sekali jika teman-teman Anda menjenguk Anda?” Ajahn Brahm meyakinkan.

“Bahkan ketika Anda menjadi tua, tak ada yang salah dengan menjadi tua. Menjadi tua adalah sesuatu yang luar biasa!” seru Ajahn Brahm.

Beberapa waktu lalu Ajahn Brahm baru saja merayakan ulang tahun ke-60. Kebanyakan orang pada usia 60 tahun akan mulai berpikir untuk pensiun. Maka Ajahn Brahm pun bertanya kepada para muridnya, “Bolehkah saya pensiun?” Muridnya menjawab, “Tidak… Tidak…” Karena bagi seorang bhikkhu, makin tua justru dianggap makin suci. “Jadi saya baru memulai ‘karir’ saya. Pada umur 70 tahun, saya akan bekerja 2 kali lipat lebih keras. Dan pada umur 80 tahun, saya akan bekerja 3 kali lipat lebih keras,” ujar Ajahn Brahm tertawa. “Tapi saya menikmati usia saya. Saya selalu berpikir saya tidak semuda dulu, tapi tidak setua apa yang akan saya alami. Jadi lebih baik saya menikmatinya hari ini.”

“Jadi, dengan cara seperti itu Anda tidak perlu cemas terhadap apapun. Apapun yang akan terjadi dengan hidup kita, all is well. Walaupun banyak kesedihan dan kesulitan dalam hidup kita, itulah tantangannya. Di situlah kita bisa bertumbuh.”


Jangan Pernah Mengkhawatirkan Apa Pun
Ajahn Brahm mengajak kita sedikit merenung. Menurutnya, sebelum timbulnya kebahagiaan dan hal-hal yang indah, biasanya didahului dengan rasa sakit. Jadi, ketika kita mengalami banyak penderitaan dan kesakitan, semuanya akan baik-baik saja, karena itu adalah pertanda bagus sesuatu yang indah akan datang.
Bagaimana cara kita menikmati semua ini? “Pertama, jangan pernah mengkhawatirkan apa pun,” ujar Ajahn Brahm tegas.

Ajahn Brahm kemudian menceritakan pengalamannya ketika menjadi bhikkhu di Thailand. Karena tinggal di vihara hutan, banyak nyamuk yang menggigit. “Saya berpikir pasti salah satunya adalah nyamuk malaria. Padahal sebagai bhikkhu, kami tidak boleh membunuh nyamuk. Itulah masalah besarnya,” kali ini mimik Ajahn Brahm serius. Ajahn Brahm berseloroh, nyamuk-nyamuk di Thailand sepertinya telah berevolusi sehingga mereka tahu ketika melihat orang yang berjubah cokelat, mereka akan berpikir, “Inilah makan malam!” Nyamuk-nyamuk itu tidak tahu kapan ditepok ketika sedang menghisap darah. Karenanya mereka sangat bahagia jika ketemu dengan bhikkhu karena pasti tidak akan ditepok. Dan nyamuk-nyamuk itu makin girang jika bertemu dengan bhikkhu bule. “Sebab itulah pertama kalinya di Thailand timur laut para nyamuk itu merasakan ‘masakan Barat’,”  seloroh Ajahn Brahm yang kembali disambut tawa publik JCC.

Pengalamannya ‘bergaul’ dengan nyamuk malaria ternyata memberinya sebuah pengetahuan baru, “Begitu banyak nyamuk di sana, dan jika Anda cemas, tubuh Anda akan tegang. Akhirnya saya menemukan sebuah fakta bahwa semakin kita cemas, semakin banyak karbondioksida keluar dari pori-pori tubuh kita sehingga makin banyak nyamuk yang datang. Semakin kita cemas, semakin kita digigit nyamuk.

Maka, Ajahn Brahm pun akhirnya memilih melepaskan kecemasannya dan berkata, “Oh nyamuk, pintu hatiku terbuka untukmu. Silahkan gigit saya, nikmatilah makan malammu…” Alhasil, Ajahn Brahm menjadi rileks sehingga menjadi tidak kasat mata bagi para nyamuk itu. “Inilah yang mengajari saya, kecemasan itu yang melukai saya, bukan malaria,” ia menyimpulkan.

Ajahn Brahm punya cerita lain tentang rasa cemas. Bulan Desember 2011 lalu ada seorang gadis 14 tahun mengeluh kepadanya, “Sungguh tidak adil! Saya baru berumur 14 tahun, tapi tahun 2012 mau kiamat. Sungguh tidak adil! Saya belum ngapa-ngapain.” Ajahn Brahm lalu berkata padanya, “Tahun ini bukan tahun 2012. Kita ini umat Buddha, jadi tahun ini adalah tahun 2555 Buddhist Era. Jadi, bagi umat Buddha, tahun ini tidak akan kiamat. Mungkin bagi umat lain kiamat. Haha.”

“Dan coba kau lihat angkanya, 2-5-5-5, itu adalah nomor hoki! Karena beberapa waktu lalu saya tinggal di Thailand, saya mengerti bahasa Thailand. Angka “5” dalam bahasa Thailand adalah “ha”. Jadi tahun ini berarti tahun “two-ha-ha-ha”. Tahun yang sangat kocak! Haha”


Simpan Hanya Kenangan yang Bahagia

Ajahn Brahm sangat beruntung bisa menjadi murid Ajahn Chah, seorang master meditasi tradisi hutan yang sangat terkenal di Thailand. Ajahn Chah sering mengangkat gelas dan berkata kepada para muridnya, “Apakah kalian bisa melihat retakan-retakan dalam gelas ini?” Ajahn Brahm kemudian benar-benar memelototinya dan segera berkata, “Saya tidak melihat ada retakan di gelas itu.” Bahkan Ajahn Brahm sempat berpikir, Ajahn Chah mungkin agak retak (baca: gila). Tapi Ajahn Brahm salah, Ajahn Chah sangat bijaksana dan tidak gila, “Retakan-retakan pada gelas sangat kecil sekali, sangat mikroskopis, tapi ada. Jika ada orang yang menjatuhkan gelas ini, retakan-retakan itu akan terbuka dan gelas ini akan pecah. Retakan-retakan itu adalah pertanda adanya anicca (ketidakkekalan). Karena kita tahu gelas itu memiliki retakan-retakan itulah, maka kita harus benar-benar hati-hati dalam menjaganya. Tapi jika gelas itu terbuat dari plastik, Anda mau banting atau tendang sekalipun tidak akan pecah, Anda malah tidak akan benar-benar memperhatikan dan menjaganya. Karena manusia memiliki retakan-retakan dan rapuh, maka suatu hari kita akan mati. Karena itulah kita harus peduli satu sama lain. Kalau kita tidak rapuh, kita tidak akan saling peduli satu sama lain. Karena adanya kesedihan dan air mata, kita menjadi memiliki welas asih. Itulah yang membuat hidup kita menjadi indah.”

“Tapi kadang-kadang kita tidak bisa bilang all is well dengan tulus karena masih saja cemas dengan hal-hal di masa lalu, bukan hanya di masa depan,” ujar Ajahn Brahm.

“Saya sudah mengunjungi banyak rumah dan mereka memajang foto-foto yang indah di dinding rumah mereka. Foto pernikahan, foto wisuda sarjana, foto liburan, tapi saya tidak pernah melihat siapa pun memasang foto ketika mereka sedang bercerai, atau foto anak sedang mengerjakan PR. Saya juga belum pernah melihat foto orang yang terjebak dalam kemacetan di Jakarta pada Senin pagi.”

Ajahn Brahm melanjutkan, “Anda hanya menyimpan foto-foto yang indah di rumah Anda, dan memang begitulah seharusnya. Tapi jangan lupa, kita punya album foto yang lain. Dan itu adalah album foto di dalam batin kita. Di sinilah kita menyimpan seluruh album foto kita. Foto saat suami sedang membohongi istrinya, foto saat istri mengomeli suaminya, foto saat seseorang menipu kita dalam bisnis. Itu semua bukan foto yang baik untuk disimpan dalam batin.”

“Zaman sekarang kita tidak lagi menyimpan foto dalam album foto, melainkan di dalam komputer. Jika ada foto yang kita tidak suka, pencet delete (hapus)! Begitulah yang seharusnya Anda lakukan terhadap foto-foto buruk dalam kenangan Anda, jika Anda tidak suka, hapus! Cukup simpan kenangan-kenangan yang bahagia. Ini akan membuat Anda termotivasi menjadi orang yang lebih bahagia, menjadi orang yang lebih sehat, menjadi orang yang lebih sukses. Itulah yang disebut melepas. Ketika Anda melepas rasa sakit di masa lalu, apa yang tersisa? All is well…”

So, mari kita ucapkan, “Untuk semua yang telah terjadi, terima kasih. Untuk semua yang akan terjadi, baiklah.”


Peluncuran Buku Ajahn Brahm dan Lelang
Talkshow kali ini terasa makin istimewa karena diluncurkan juga 3 buku dan 1 DVD karya Ajahn Brahm yang diterbitkan oleh Ehipassiko Foundation, yaitu novel Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3, cergam Si Cacing dan Komplotan Kesayangannya, komik Kangarooguru, dan DVD animasi Si Cacing dan Kotoran Kesayangannyayang pasti ditunggu-tunggu oleh para pecinta Ajahn Brahm. “Kebanyakan cerita dalam buku-buku saya adalah cerita-cerita untuk semua orang dari berbagai agama,” tutur Ajahn Brahm.

Selain itu juga diadakan lelang 4 lukisan surealis diri Ajahn Brahm yang dilukis oleh Ikhsan. Dari lelang empat lukisan itu terkumpul dana Rp 446 juta yang akan dipergunakan untuk membiayai anak asuh Ehipassiko Foundation yang jumlah mencapai 1350 anak di seluruh Indonesia.
Sumber :Budhhazine.com
SANG KOKI DAN UTUSAN RAJA
Oleh : Benny


Seorang Utusan dari pemerintahan mendatangi Biara Shaolin untuk mewawancarai Koki /Tukang masak yang sangat terkenal di negeri itu karena selain kepiawaiannya dalam mengelola masakan vegetarian, juga membuat para murid Shaolin memiliki kekuatan tubuh dan kesehatan yang prima.

Untuk mengetahui ‘apa rahasianya’,  ia melakukan wawancara dengan si Koki sambil menyaksikan murid-murid Shaolin sedang berlatih Kungfu.

Utusan : “ Makanan apa yang membuat murid-murid Shaolin ini tampak begitu sehat dan kuat walaupun mereka semua adalah vegetaris ?

Koki : “ Maksud anda murid-murid yang berseragam hitam atau putih ?”

Utusan : “ Oh..kalau yang berseragam Hitam ?”

Koki : “ Yang berseragam hitam itu makanannya sayur-mayur dari hasil bercocok tanam sendiri “.

Utusan : “ Oh..luar biasa, nah..kalau yang berseragam Putih ? “

Koki : “ Kalau yang berseragam putih, yah sayur-mayur dari hasil bercocok tanam sendiri juga

Utusan : “ ??..,O iya... Dalam sehari, mereka boleh makan berapa kali ? “

Koki : “  Yang mana maksud anda, yang berseragam hitam atau yang putih ?”

Utusan : “ Oh..ada perbedaan ya ?..Kalau yang berseragam Hitam ? “

Koki : “ Tiga kali sehari “

Utusan : “ Kalau yang berseragam Putih ? “

Koki : “ Yang berseragam putih, yah sama juga tiga kali sehari”.

Si orang Utusan sudah mulai gregetan dan berkomentar : Dari tadi anda kalau saya tanya selalu menanyakan yang berseragam hitam atau yang putih, tetapi jawaban anda selalu sama, saya jadi mulai bingung dengan penjelasan anda seperti itu !”

Koki : “ Ooohh..anda jangan salah paham dulu Tuan, begini, Kalau yang berseragam Putih itu adalah Asli murid-murid Biara Shaolin disini “.

Si Utusan sudah tidak sabar lagi : “ Jadi, maksud anda yang berseragam hitam itu bukan asli murid-murid Biara Shaolin disini, begitu kan ? “

Koki : “ Yah...yang berseragam hitam adalah murid-murid asli Biara Shaolin disini juga sih...”

Utusan mulai senewen dan sewot : ‘ Waduuuhh..kalau begitu gak perlu di bedakan yang berseragam hitam dan putih dong ah...!!”

Koki : “ Beda dong Tuan, kalau yang berseragam hitam kan tempat makannya pakai mangkok “

Utusan : “ Huhhh...kan sama aja yang berseragam Putih tempat makannya pakai mangkok juga , ya kan ?!”

Koki : “ Ya iyalah Tuan...Tetapi kan seragamnya tidak hitam !”

Utusan : @#$%*&!@??#%#&!!!!! ( sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya) ia ngedumel sendiri : “ Karma apa yang pernah kulakukan dimasa lampau ...koq aku bisa dipertemukan dengan Koki model begini...arrrgghhh...”

Koki : “ Sekarang sudah jelas perbedaannya kan Tuan ? “

Utusan (sambil menahan nafas-geramnya) :” Boleh saya minta obat untuk sakit kepala ?”

Koki : “ Ohh..kenapa Tuan , anda sakit kepala ya ?, baik akan saya ambilkan, tunggu sebentar...,mmm...tapi...disini ada 2 macam bentuk obat yang berbeda, yang berbentuk kapsul dan yang cair, Tuan mau yang mana?

Utusan : “ baiklah..saya mau yang cair saja..”

Koki : “ Kalau yang cair khusus untuk sakit kepala yang sangat berat Tuan”

Utusan : “ Kalau yang kapsul ?”

Koki : “ Yah...sama juga sih..!”

Utusan : @#&*$+=%@!... Buddha help me please...!!