Rabu, 30 Januari 2013

Cerpen Buddhis: Friends

“Tok, tok, tok !” “Tunggu sebentar!” sahut Andre mendengar pintu kamar kostnya diketuk. Dengan malas, Andre pun berdiri, berjalan ke arah pintu, “Oh, kamu, Nia, ada apa siang-siang begini?”

“Ada apa?” tanya Nia keheranan, “Oh, kamu menyindirku ya?, karena aku kepagian lebih dari setengah jam? Sorri, soalnya daerahku itu ‘kan susah dapat angkot, jadinya aku keluar lebih awal, tahunya hari ini gampang!”

Andre tersenyum, “Ngak, aku ngak nyindir kamu, aku betul-betul naya, ada perlu apa kamu ke sini?”.
“Becanda kamu!” 

Melihat tampang Andre yang serius, Nia pun melanjutkan dengan nada agak kesal, “Hari ini hari sabtu, Susan ulang tahun hari ini dan ngundang kita makan, dan kita udah janji buat nyari kado siangnya!”

“Ohh…!” Andre menepuk keningnya, Ya..ya..ya…., maaf, aku lupa!”. “Paulus mana?” lanjut Andre. Nanti juga akan ke sini, ‘kan janjiannya bakal ketemu di sini, kamu juga lupa itu.. ya? Tadi juga dia udah kutelepon!”

Mereka berempat dengan Susan memang bersahabat sejak SMU dulu. Kini mereka kuliah di tempat yang berbeda-beda, namun sampai saat ini masih mengontak satu sama lainya. Uniknya, tidak satupun diantara mereka yang beragama sama. Andre sendiri seorang pemeluk agama Buddha yang tulen, Nia beragama Kristen, dan Paulus Katolik. sedangkan Susan, lebih senang mengikuti orang tuanya saja, Kong Hu Chu.

“Duduklah dulu, mau minum apa?” Andre memecah keheningan. 

“Udah, angak perlu repot, kayak orang asing saja. Ntar aku ambil sendiri aja. Kamu lagi sibuk ya?” lanjut Nia, melihat kertas-kertas yang berserakan di atas meja belajar Andre. “N gambil semester pendek?” lanjutnya lagi mengingat saat itu seharusnya mereka tengah liburan. Memang beberapa Universitas termasuk Universitas tempat Andre kuliah telah mulai dengan program semester pendeknya.

“Ya aku ngambil 8 sks di semester pendek ini, tapi bukan itu yang sedang kukerjakan!” “Urusan Vihara?”
Andre mengangguk, lalu melanjutkan, “Sebenarnya…..” Andre berpikir untuk mencari kata yang tepat.
“Sebenarnya kamu ngak bisa datang nanti malam karena kamu telah buat janji yang lain, di Viharamu, ya kan?”
Andre mengangguk, “Aku sudah janji sama Unit Kreatif untuk ngebantu bikin papan mading yang baru dan …..”

“Tapi kamu kan ketua!” potong Nia cepat.

Mereka terdiam, “Apa ngak ada orang lain?”. 

“Kasihan Frederik, stafnya banyak yang pulang kampung, dan sebagian lagi tidak peduli akan kerjaanya.”

“Tapi kan masih ada yang lain, yang bukan staf unit itu pun seharusnya ikut andil dong! Udah sana telepon Frederik dan bilang kamu ngak bisa datang!”

“Ya, tapi kamu kan setidaknya ngerti gimana kondisinya, berapa orang yang benar-benar punya perhatian buat…buat….”

“Aku ngak mau dengar itu, Andre. Gimana nanti perasaan Susan. Pas kita janjian nonton waktu itu juga udah kamu batalin gara-gara ada rapat di Viharamu kan?”. 

Andre menghela napas, “Sejujurnya, aku iri sama organisasi agama kalian!” 

“Gimana kuliahmu?” “Apa?”, “Kuliahmu!?” “Aku ngak lulus dua mata kuliah!” Andre menunduk, ada suatu rasa malu juga ketika dia menyebutkan itu.

Kamu ingat nilai-nilai kamu di tingkat I dulu, dan bagaimana pujian guru-guru selalu dilayangkan padamu semasa SMU dulu?”. “Aku ngak pingin membahas masalah itu, Nia”. 

“Bagaimana kamu harus menghadapi masalah itu, Andre!”. 

“Ya tapi semuanya telah menjadi begitu rumit, dan itulah yang ingin aku pecahkan sekarang ini. Perhatian dari staf dan umat yang sangat kurang, pihak yayasan, belum lagi senior-senior yang turut campur, padahal mereka sendiri kurasa belum tentu mengerti betul bagaimana kondisi Vihara sekarang. Belum lagi…”, Andre terhenti, tak tahu lagi apa yang ingin dikatakannya. 

“Belum lagi ? Ah…tak tahulah !”

Suasana hening sejenak, “Kapan terakhir kamu minta bantuan ?”

Andre mengingat-ingat, “Hari minggu kemarin, ketika aku minta Hedy untuk mengkoordinir umat yang mau main basket !” Nia tersenyum, “Itu bukan minta bantuan, itu kan memang tugasnya dia sebagai koordinator Olahraga!”

“Oh..dua hari yang lalu ketika kuminta Nancy untuk mengetikkan surat…” Andre tidak melanjutkan kalimatnya.

“Kamu berubah banyak, Andre. Mana sistem pembagian waktumu yang bagus itu, ketika kamu berhasil memimpin OSIS tanpa menanggalkan gelarmu sebagai siswa dengan nilai terbaik di sekolah kita?”

Suasana hening kembali, “Kurasa kesalahanmu cuma satu, kamu begitu ingin memajukan Viharamu dan Agama Buddha. Itu memang suatu hal yang sangat indah dan terpuji, tapi caramu salah, bukan dengan mengorbankan dirimu habis-habisan begitu. Mereka juga perlu belajar bertanggung jawab. Disitulah perananmu, arahkan mereka, dan tak perlu sungkan untuk menegur mereka!” “Kenapa kamu begitu perhatian padaku, Nia? Apakah …?”

“Kamu sahabatku. Betapapun jeleknya kamu, apapun agamamu, yang jelas kita telah bersahabat sejak SMU, dan itu yang ingin aku jalani!”

Untuk kesekian kalinya, suasana hening kembali tercipta, “Kupikir senior-seniormu juga mesti berpikiran seperti ini, tidak hanya mengkritik saja, tetapi juga berusaha untuk melihat kondisi di dalamnya. Staf-staf kamu juga, kalau mereka benar-benar peduli dan sadar akan komitmennya, semoga lambat laun mereka bisa menempatkan diri secara tepat.”

Andre tersenyum masam, “Tapi…bagaimana aku bisa memulai itu semua?” Nia mengangkat bahunya, “Mungkin kamu bisa menuliskan percakapan kita ini menjadi sebuah cerpen sebagai permulaan!”
Andre berpikir sejenak, lalu mengangguk-angguk sendiri dan berkata, “Terima kasih, Nia!” Nia cuma bisa mengangguk.

Tiba-tiba mereka dikejutkan suara Paulus, “Aduh, maaf aku terlambat hampir 10 menit, tadi dompetku ketinggalan, jadi aku harus kembali untuk mengambilnya dan…”

Andre mengusap air matanya yang tanpa sadar telah merebak tadi, “Masuklah dulu, Paul! Aku telepon teman dulu, t’rus ganti baju, dan kita segera berangkat, Oce?”

Paulus cuma terheran-heran, “Apa aku ketinggalan sesuatu?” Nia tersenyum, “Ya, jelas, sebuah cerita indah!”

What We Do After That


Sahabat se-Dhamma, salam sejahtera. Saya sebagai blogger baru ada beberapa pertanyaan yang ingin disampaikan. Namun apabila pemakaian kata-katanya kurang pas, harap dimaklumi ya ^^. Maklum newbe...haha...

Tujuan hidup jangka panjang sebagai umat Buddha yaitu mencapai Nibbana di mana sebuah kondisi yang telah mencapai kesempurnaan batin, tidak ternoda lagi oleh hawa nafsu, dan mendapatkan kebahagiaan tertinggi.

Dari pernyataan di atas, ada beberapa pertanyaan yang saya belum dapat jawabannya sampai sekarang.
1. Setelah Nibbana dicapai, lalu apa lagi yang harus kita lakukan ?
2. Seperti apakah kebahagiaan tertinggi itu ?
3. Jika tidak ada keinginan, dapatkah kita merasa bahagia, jika dapat, bahagia karena apa ? Dan mengapa kita bahagia karena hal tersebut ?

Demikianlah sahabat se-Dhamma. Harap bagi yang mengetahui dapat memberikan jawaban kepada saya, agar saya yang masih kecil ini dapat membuka mata batin saya. Setitik jawaban Anda sangat berarti bagi saya. Sadhu 3x...
11 Patung Buddha Terkenal Di Dunia

1. Borobudur Buddha Statue

http://sahlan-safa.blogspot.com/
Patung-patung Buddha di Borobudur adalah mahakarya dari para seniman kuno Indonesia. Semua patung Buddha di sini berada dalam posisi duduk tetapi dengan sikap tangan yang berbeda. Dari awalnya terdapat 504 patung Buddha, 300 di antaranya rusak dan 43 hilang. Sejak penemuan kembali candi ini, sudah banyak kolektor gelap yang mencuri kepala patung Buddha.

2. Hussain Sagar Buddha Statue
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Patung Buddha ini terletak di tengah-tengah sebuah danau buatan di kota Hyderabad, India. Patung ini berdiri setinggi 17 meter dan seberat 320 ton. Ini merupakan patung monolitik terbesar di India, yang dipahat oleh para seniman hanya dari sebongkah batu besar. Tragisnya, pada saat pemasangan patung Buddha pada tahun 1992, patung ini jatuh ke dalam danau dan menyebabkan kematian 8 orang pekerja. Pemerintah kemudian memperbaiki patung dan sekarang menjadi salah satu daya tarik wisatawan di kota Hyderabad.

3. Tian Tan Buddha Statue
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Buddha Tian Tan terletak di Pulau Lantau, Hong Kong. Terbuat dari perunggu dan selesai tahun 1993. Patung ini merupakan daya tarik utama dari Vihara Po Lin, yang mensimbolkan harmonisasi antara manusia, alam, masyarakat dan agama. Patung ini dinamakan Tian Tan karena bagian bawahnya merupakan replika dari Kuil Tian Tan (Kuil Surga) di Beijing. Patung dengan sikap duduk ini memiliki tinggi 34 meter dan mengambil postur yang melambangkan ketenangan.

4. Monywa Buddha
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Buddha Tian Tan terletak di Pulau Lantau, Hong Kong. Terbuat dari perunggu dan selesai tahun 1993. Patung ini merupakan daya tarik utama dari Vihara Po Lin, yang mensimbolkan harmonisasi antara manusia, alam, masyarakat dan agama. Patung ini dinamakan Tian Tan karena bagian bawahnya merupakan replika dari Kuil Tian Tan (Kuil Surga) di Beijing. Patung dengan sikap duduk ini memiliki tinggi 34 meter dan mengambil postur yang melambangkan ketenangan.

5. Monywa Buddha
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Kota Ayutthaya di Thailand memiliki salah satu patung Buddha yang tidak biasa di dunia. Di antara reruntuhan Wat Mahathat (Vihara Relik Agung) terdapat sebuah patung yang seluruh badannya telah lenyap oleh waktu dan hanya tersisa kepalanya saja di antara belitan pepohonan. Ini adalah salah satu patung yang sangat indah yang tercipta oleh berlalunya waktu.

6. Gal Viharaya
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Terletak di Sri Lanka, Polonnaruwa merupakan situs salah satu patung Buddha yang paling terkenal di dunia. Vihara batu ini dibuat oleh Parakramabahu Agung di abad 12 Masehi. Di tengah-tengah vihara terdapat 4 patung Buddha berukuran besar. Di antara ke-4 patung Buddha ini adalah sebuah patung Buddha berbaring sepanjang 14 meter dan sebuah patung Buddha berdiri setinggi 7 meter.

7. Ushiku Daibutsu
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Terletak di Sri Lanka, Polonnaruwa merupakan situs salah satu patung Buddha yang paling terkenal di dunia. Vihara batu ini dibuat oleh Parakramabahu Agung di abad 12 Masehi. Di tengah-tengah vihara terdapat 4 patung Buddha berukuran besar. Di antara ke-4 patung Buddha ini adalah sebuah patung Buddha berbaring sepanjang 14 meter dan sebuah patung Buddha berdiri setinggi 7 meter.

8. Ushiku Daibutsu
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Terletak di Bangkok, Wat Pho terkenal dengan patung Buddha berbaringnya yang besar. Vihara ini merupakan salah satu vihara terbesar dan tertua di Bangkok, dibangun sekitar 200 tahun setelah Bangkok menjadi ibukota Thailand.

9. Great Buddha of Kamakura
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Buddha Agung Kamakura atau dalam bahasa Jepang biasa disebut Daibutsu Kamakura, merupakan sebuah patung perunggu monumental dari Amida Buddha (Buddha Amitabha) di kota Kamakura, Jepang. Patung ini berdiri dengan damai di atas tanah Kotokuin yang merupakan sebuah kuil buddhis aliran Tanah Suci, dan patung Buddha ini menjadi salah satu ikon penting dalam pariwisata dan kehidupan sosial masyarakat Jepang.

10. Temple of the Emerald Buddha
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Vihara terkenal lain di Bangkok adalah Wat Phra Kaew, Vihara Buddha Zamrud. Di dalam vihara ini terdapat patung Buddha Zamrud, salah satu patung Buddha tertua dan paling terkenal di dunia. Menurut legenda, patung ini dibuat di India sekitar 43 SM di kota Pataliputra dan berada di sana selama 300 tahun. Pada abad ke-4 M, patung ini dibawa ke Sri Lanka oleh para biksu buddhis untuk menyelamatkannya dari peperangan yang terjadi. Kemudian patung ini dibawa ke Thailand dan dipindahkan ke Wat Phra Kaew di tahun 1779.

11. Leshan Giant Buddha
http://sahlan-safa.blogspot.com/
Patung Buddha raksasa Leshan adalah sebuah mahakarya umat manusia. Patung Buddha ini dipahat di sebuah lembah yang langsung menghadap ke laut di Sichuan, bagian barat Cina. Mulai dibuat selama Dinasti Tang tahun 713, patung ini baru selesai tahun 803 (90 tahun) dan melibatkan usaha dari ribuan seniman dan pemahat. Sebagai salah satu patung terbesar di dunia, patung ini juga disebut-sebut dalam puisi, lagu dan cerita.

Badai Pasti Berlalu


Waktu itu Hani bersama kakaknya sedang berada di Stasiun Yogya, menunggu kereta yang akan membawanya pulang ke kota kecil tempat mereka dilahirkan.

Di pintu peron dia melihat dua lelaki remaja seusianya sedang berjalan memasuki stasiun. Di punggung mereka bertengger ransel besar-besar .Tanpa diduga cowok itu duduk tidak jauh dari tempatnya duduk bersama kakaknya.

Keduanya ngobrol dan tertawa-tawa lepas meskipun terlihat kelelahan di wajahnya dan keringat bercucuran. Karena jarak Hani dengan kedua cowok itu hanya selisih dua bangku, dia bisa mendengar jelas obrolan mereka. Seru sekali kedengarannya, ternyata mereka habis pulang dari mendaki gunung di kota ini dan berniat untuk pulang ke Yogya. Hani jadi tertarik dan ikut menyimak. Bahkan tanpa ia sadari kadang ikut tersenyum bila ada kalimat atau pembicaraan mereka yang terdengar lucu. Sampai kemudian Hani nggak menyadari kedua cowok itu sudah berada di dekatnya.

"Ehm, selamat siang...", sapa yang memakai kaos hitam ramah. Sejenak Hani terkejut. Kakaknya pun begitu. "Siang juga...", kakaknya lebih bisa mengatasi kekagetannya. Dia balas menjawab ramah. Hani hanya mengangguk saja.

Dan diawali dari sapaan itu, lantas mereka berkenalan. Kebetulan lagi tujuan mereka sama. Topan dan Ibeng, nama kedua cowok itu, memang tinggal di kota dimana Hani juga tinggal. Akhirnya dari perkenalan tersebut mereka menjadi akrab dan pertemuan demi pertemuan dilanjutkan sesampainya di Yogya.

Mengenal Topan dunia Hani terasa lebih luas. Ruang geraknya tidak hanya di sekitar rumah dan sekolah melulu. Bersama Topan pula Hani pernah diajak ke daerah kumuh yang menurutnya tidak layak untuk dihuni, berkenalan dengan kawan-kawan kecil Topan di panti asuhan. Bahkan pernah di ajak mendaki gunung yang membuat Hani bersumpah untuk tidak melakukannya lagi. Menurut Hani hanya rasa capek yang amat sangat serta badan terasa sakit, yang ia dapatkan. Ternyata Topan sebaliknya, ia sangat suka sekali pergi mendaki gunung.

Suatu ketika Topan akan pergi ke luar kota untuk mendaki gunung bersama teman-temannya. Hani sendiri tidak tahu kenapa perasaanya kurang enak pada waktu mengantar kepergian Topan. Sebenarnya Hani pun diajak oleh Topan untuk ikut bersammanya karena akan ada sesuatu yang harus disampaikan. Dan Topan ingin menyampaikan hal tersebut pada waktu mereka berdua berada di puncak gunung. Tapi Hani menolak dengan alasan dia harus membantu ibunya bekerja. Hani tahu bahwa diantara dia dan Topan telah tumbuh benang-benang kasih dan Topan belum mengatakannya sampai sekarang.

"Sebenarnya banyak yang ingin aku sampaikan di sana tapi nggak apa-apa deh kalo kamu nggak bisa ikut. Tunggu aku pulang, yah....Akan kubawakan setangkai bunga edelwise nanti", Topan berkata sebelum dia berangkat. Keesokan harinya Hani mendengar berita bahwa Topan dan teman-temannya mengalami kecelakaan di sebuah gunung. Mereka tersesat dan terperosok ke dalam jurang. Topan beserta kedua temannya tidak dapat diselamatkan lagi. Hani merasa sangat terpukul mendengar berita tersebut. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan begitu cepat memanggilnya.

Sejak kepergian Topan Hani sering menangis dan mengurung diri di kamar. Sifat Hani juga berubah menjadi mudah tersinggung dan cepat marah. Teman-teman di sekolah Hani menjadi bingung dengan perubahan terrsebut. Beberapa teman Hani berusaha untuk menasehatinya tapi ter-nyata sia-sia saja.

Teman dekat Hani yang bernama Dewi merasa sedih dengan perubahan yang dialami Hani. "Han.., nggak baik kalo kamu terus menerus bersedih. Memangnya dengan bersikap seperti ini Topan akan hidup kembali.

Ingat Han!..., segala sesuatu itu tidak kekal. Mengapa kamu tidak menjalani hidup seperti biasa saja dan memanfaatkan waktu yang ada untuk hal-hal yang lebih berharga daripada meratapi kesedihan yang tidak ada habis-habisnya", Dewi berusaha menyadarkan Hani untuk kembali seperti sediakala. Hani yang tadinya hanya menunduk saja, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan berkata. "Benar juga kata kamu, Wi... Aku seharusnya tidak sedih berlarut-larut, salahnya Topan adalah cinta pertamaku. Tapi sekarang aku sudah sadar bahwa tindakanku selama ini salah dan hanya memikirkan diriku sendiri. Terima kasih., Wi... atas nasehatmu. Sekarang aku akan berubah menjadi seperti Hani yang dulu lagi". "Nah, gitu dong.... itu baru yang namanya Hani ", balas Dewi dengan tersenyum manis.